Bagimu Indonesiaku

Foto: indonesiamengajar.org

BAGIKAN:
                                                              Foto: indonesiamengajar.org

 

Penulis: Annisa Zeny Wankhar

Membangun sebuah negara ibarat berlayar diatas kapal yang berjalan untuk mencapai tujuan bersama”

 

“Dengan cara apa anak muda bisa aktif berkontribusi untuk negeri?” pertanyaannya yang menjadi renungan bagi kita, para pemuda generasi penerus bangsa, melihat bagaimana kondisi Indonesia saat ini.

Sudah hampir 73 tahun Indonesia merdeka, namun apa sesungguhnya makna kemerdekaan bagi bangsanya? Apakah lepasnya cengkraman bumi pertiwi dari tangan para penjajah sudah cukup menjadi bukti kemerdekaan Indonesia? Lalu bagaimana dengan kesejahteraan bangsa yang seharusnya selaras dengan lamanya negara ini berdiri, sejak dideklarasikannya kemerdekaan? Tidak berhenti pada kesejahteraan secara lahiriah namun juga batiniah. Sudah cukup kuatkah Indonesia memerangi budaya luar yang terus membunuh karakter para penerus bangsa? Banyak dari kita yang tak menyadarinya. Terlena pada budaya luar yang akhirnya perlahan membunuh karakter pemuda pemudi bangsa. Tidak akan sama pengabdian sejati pemuda pemudi bangsa di zaman dahulu dengan sekarang. Masalah lain seperti pengangguran, pendidikan, kejahatan bahkan korupsi tiada habisnya.

Saat ini tidak sedikit pemuda pemudi bangsa yang merasa lebih asyik menikmati romansa drama dan alunan musik yang dipadukan dengan tari-tarian, daripada mendengarkan berbagai keilmuan yang diajarkan oleh para pendidiknya. Alhasil, menempuh pendidikan tidak lagi diniatkan untuk menjadi generasi penerus bangsa yang hebat, yang mampu membawa negaranya lebih baik lagi, dan yang bisa menyelamatkan bumi pertiwi dari kewaspadaan berbagai serangan, baik secara fisik maupun psikis. Namun kebanyakan yang sering terjadi ujian hanya diniatkan untuk mencari hasil yang baik tanpa mengindahkan proses. Akhirnya, banyak dari mereka yang harus berlaku curang, membeli soal, menyontek jawaban, dan kebiasaan negatif lainnya. Kebiasaan-kebiasaan tersebut yang kemudian dapat menjadi salah satu penyebab pengangguran dan kemiskinan, bahkan kemudian mengerucut pada kasus kasus korupsi yang semakin meningkat.

Dikutip dari laman tempo.co, Peneliti Divisi Investigasi Indonesia Corrupption Watch (ICW) Wana Alamsyah mengatakan penanganan kasus korupsi meningkat dari tahun 2016 ke tahun 2017, terutama dalam aspek kerugian negara. Tercatat sepanjang tahun 2017 terdapat 576 kasus korupsi dengan jumlah kerugian sebesar Rp 6,5 triliun dan suap Rp 211 miliar. Angka ini meningkat sebesar Rp 1,5 triliun dibandingkan pada tahun 2016 dengan total 482 kasus. Berdasarkan fakta tersebut, menunjukan kemerdekaan tidak sungguh sunguh dirasakan oleh rakyat Indonesia, bahkan ditangan rakyatnya sendiri. Pemangku kepentingan dalam negeri justru terlibat dalam kasus korupsi. Bukan malah menyelamatkan negaranya namun malah memanfaatkan untuk kepentingan pribadi.

Kejadian kejadian tersebut menjadi renungan kepada kita sebagai generasi penerus bangsa untuk menyelamatkan Indonesia, mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya demi mewujudkan kesejahteraan bangsa dan negara. Cara yang dapat dilakukan agar pemuda  berkontribusi aktif untuk negara adalah dengan menyadarkan mereka melalui pendidikan dan para pendidik mereka agar terus aktif dalam melakukan kegiatan positif. Betapa besarnya pengaruh pendidikan dalam pembentukan karakter pemuda bangsa baik secara intelektual, emotional mapun spiritual. Bagaimana melatih mereka menjadi pemuda yang tidak hanya cerdas tapi juga berintegritas. Karena cerdas saja tidak cukup kuat untuk membangun bangsa lebih baik. Banyak pemangku kepentingan yang cerdas namun justru malah menghancurkan negaranya sendiri dengan kecerdasan yang dimiliki. Menyadarkan pemuda untuk berkontribusi aktif, tidak dapat efektif terjadi tanpa dukungan pemerintah. Kompensasi positif dari pemerintah perlu dilakukan untuk memberikan semangat baik bagi lembaga pendidikannya, para pendidik ataupun muridnya.

Faktanya yang terjadi saat ini, lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini kurang memadai kuantitas dan kualitasnya. Alhasil sistem belajar mengajar tidak efektif, karena satu pendidik menangani terlalu banyak siswa dalam satu ruangan. Sehingga tidak ada pendekatan antara guru dan murid, padahal hubungan antara guru dan murid seharusnya seperti hubungan antara ibu dan anak. Kedekatan tersebut dapat merangsang emosional menjadi lebih baik karena murid-murid akan merasa lebih dipedulikan dan dihargai. Pemahaman karakter setiap murid merupakan sesuatu yang perlu dilakukan.

Fakta lain yang terjadi banyak para  pendidik yang justru tidak paham dengan apa yang diajarkannya sehingga menimbulkan keresahan bagi muridnya sendiri. Banyak sekolah-sekolah bahkan universitas yang merekrut pengajar dan mengajarkan tidak sesuai dengan bidangnya. Hal tersebut justru menimbulkan kekacuan dan mengubah dasar-dasar keilmuan. Ibarat berjalan didalam lorong yang gelap dan bukan menemukan jalan keluar justru malah tersesat.

Hal tersebut menunjukkan kurangnya pengamatan dan pemberian kompensasi positif dari pemerintah. Sehingga semua bagian tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sebagian para pendidik tidak lagi diniatkan bersungguh-sungguh menjadi pendidik agar dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang hebat, namun hanya sebatas menjadi pendidik karena sudah menjadi tanggungjawab. Akhirnya para pendidik terkadang tidak memahami siapa yang dididik dan apa yang diajarkan. Begitu juga para murid, sekolah tidak lagi diniatkan mencari ilmu tapi sekolah karena kewajiban untuk mencari pekerjaan atau paksaan kedua orangtuanya. Jiwa nasionalisme pun akhirnya memudar. Saat ini jarang kita temui para pemuda yang menempuh pendidikan untuk bersungguh membangun negaranya. Bahkan anak anak sebagai pemuda penerus bangsa merasa asing dengan lagu kebangsaannya sendiri. Mereka lebih hafal alunan musik dangdut bernuansa romantis dari pada lantunan lagu pengobar semangat akan cinta terhadap negeranya sendiri. Penyakit tersebut mungkin terlihat sepele namun hal ini dapat menjadi masalah besar.

Anak-anak yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa harus terus diberikan asupan positif. Lembaga pendidikan yang baik, dan para pendidik yang benar benar peduli serta pengadaan-pengadaan kegiatan positif seperti lomba, seminar, dan kegiatan positif lainnya perlu sering-sering dilakukan agar para pemuda tidak stagnan. Kegiatan-kegiatan tersebut pun harus didukung dengan fasilitas yang memudahkan para pemuda dan kompensasi yang baik. Sehingga mereka memiliki semangat karena kegiatan mereka dihargai. Keinginan mereka belajar difasilitasi. Terkadang kita temukan anak-anak yang memiliki bakat namun berhenti hanya karena mengalami kendala biaya. Hal tersebut tentu sangat disayangkan.

Saat mereka terus terlatih sesuai dengan keilmuan mereka di bidang masing masing secara perlahan mereka akan memberikan kontribusi dengan negaranya. Namun saat pemuda stagnan, mereka akan lengah dari jati dirinya sebagai pemuda, dengan begitu mereka akan melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat.

Membangun sebuah negara ibarat berlayar diatas kapal yang berjalan untuk mencapai tujuan bersama. Para pemuda adalah awak kapal yang menggerakkan kapal agar terus berjalan sampai kepada tujuan. Lalu bagaimana jadinya bila awak kapal lengah, dan terus terlena pada hal yang sama sekali tak mengarah pada tujuan. Kapal bisa saja tertabrak dan tenggelam atau bahkan dirampok oleh para perompak. Maka kapal dan seisinya akan tenggelam atau bahkan mati perlahan karena kelaparan.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *