Tak Hanya Kesehatan, Covid-19 Juga Memukul Perekonomian kita

Sumber Ilustrasi: modalku.co.id

BAGIKAN:

Dua bulan terakhir ini kita dihebohkan dengan wabah COVID-19 atau lebih kerennya orang menyebutnya dengan virus  corona. Di tengah wabah COVID-19 yang mulai banyak diperbincangan oleh banyak kalangan. Ternyata wabah ini menyimpan dampak yang cukup besar, selain menyerang manusia wabah ini juga merembet menyerang ekonomi negara. hmmm….ngeri lur.

Penyebaran COVID-19 semakin hari bukanya berkurang malah terus bertambah. Per 4 april masyarakat yang telah terinfeksi virus ini sebanyak 2,092 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.751 pasien masih dirawat, 191 pasien meninggal dan 150 pasien dinyatakan sembuh. Masyarakat juga mulai panik, hal ini disebabkan oleh dilarangannya melakukan kegiatan yang melibatkan banyak orang, seperti: pernikahan, sholat berjamaah di masjid yang mulai dibatasi ruang geraknya, sehingga timbul asumsi di masyarakat seolah-olah virus ini sangat membahayakan sekali. Padahal itu merupakan upaya Pemerintah untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Pemerintah juga menghimbau kepada masyarakat untuk menerapkan social distancing (menjaga jarak social) ketika berada di tempat umum atau tempat keramaian. Langkah pemerintah memang sudah tepat, tapi kita perlu memahami, banyak masyarakat kecil dan pekerja di sektor informal harus tetap bekerja untuk membuat dapur mereka tetap ngebul.

Lusa kemarin saya pulang ke Gresik tempat tinggal saya, di sepanjang jalan dari Malang ke Gresik banyak UMKM seperti lapak roti bakar, gorengan dan warung-warung kecil penjual nasi tutup karena sepinya pembeli. bahkan banyak tempat tongkrongan juga tutup bukan persoalan sepinya pembeli tetapi karena seringnya disidak oleh pihak keamanan. Sidak ini dilakukan atas intruksi pemerintah secara tegas melarang segala kegiatan yang melibatkan banyak orang

Di lansir dari kompas.com dari Kemenkop UKM, Jumat (27/3/20), para pelaku UMKM mengeluhkan berbagai hal akibat wabah virus corona, seperti: penjualan menurun, kesulitan bahan baku, distribusi terhambat, kesulitan permodalan dan produksi terhambat. Meskipun demikian, ada beberapa yang masih berjualan bukan karena dia kebal terhadap COVID-19, tetapi itu merupakan sumber rezeki dia satu-satunya untuk memberi makan dan menghidupi keluarganya.

Beberapa perusahaan juga mulai mengurangi aktifitas kerja para pegawainya. Di antaranya mengurangi waktu jam kerja yang semula 5 hari kerja menjadi 3 hari kerja. Para pekerja juga memahami keputusan yang diambil oleh pihak perusahaan yang mendapat surat edaran dari pemerintah untuk mengurangi aktifitas yang melibatkan banyak massa.

Di kos ada kawan saya yang berprofesi sampingan sebagai tukang ojek online (ojol). Dia mengeluh dengan adanya wabah COVID-19 penghasilannya menurun. Sebab penghasilan yang diperoleh kebanyakan dari mahasiswa, sedangkan Mahasiswa banyak yang pulang ke kampung halamanya sejak pimpinan birokrasi kampus mengeluarkan kebijakan agar kampus di lockdown sementara dan perkuliahan diganti dengan sistem daring (online). harapan satu-satunya adalah masyarakat sekitar, tetapi sejak pemerintah pusat maupun daerah menghimbau agar seluruh masyarakat mengurangi aktifitas di luar rumahnya. Dia bener-bener merasakan penurunan penghasilan yang cukup signifikan.

Di kutip dari katadata “pandemi corona membuat layanan berbagi tumpangan (ride hailing) seperti Grab dan Gojek menurun. sejak penerapan belajar dan kerja dari rumah (work form home), pendapatan para mengemudi taxi dan ojek online anjlok 80 %”

Ini baru social distancing yang diambil pemerintah untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Perekonomian dalam negri sudah mengalami tekanan, Tidak bisa membayangkan apabila pemerintah megeluarkan kebijakan untuk lockdown disetiap daerah, kemungkinan Indonesia akan mengalami krisis ekonomi lagi. aduhhhh….wes tibo ketiban tangga.

Kabar baik datang ditengah pilunya ekonomi di masyarakat, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk melawan COVID-19 yang tidak hanya menginfeksi manusia, tetapi juga menginfeksi ekonomi dalam negri. Pemerintah pusat meminta agar pemerintah daerah menjamin ketersediaan bahan pokok dan mempertahankan daya beli khususnya masyarakat menengah ke bawah seperti, buruh, petani, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Selain itu, Pemerintah juga menambah tunjangan kartu sembako murah dari 150 ribu menjadi 200 ribu per bulan untuk satu keluarga.

Otoritas jaksa keuangan (OJK) juga melakukan relaksasi kredit untuk UMKM dengan nilai dibawah 10 milyar. Relaksasi ini akan diberikan oleh perbankan dan industri keuangan non bank. Dengan kebijakan ini, masyarakat tidak perlu khawatir untuk dikejar-kejar oleh kreditur untuk melunasi hutangnya.

Penyaluran kartu prakerja juga dipercepat oleh pemerintah untuk mengurangi resiko pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga para peserta mendapatkan insentif sebesar 1 jt selama tiga sampai empat bulan.

Bukan hanya pemerintah, gerakan sipil belakangan ini muncul untuk membantu mengurani beban ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Mereka menyadari saat ini yang dibutuhkan bukan hanya penaganan medis terhadap masyarakat yang terpapar COVID-19, tetapi kebutuhan ekonomi masyarakat yang kehilangan mata pencahariannya juga perlu mendapatkan perhatian.

masyarakat yang melakukan gerakan solidaritas membuat skema dengan membuka donasi baik uang secara langsung maupun berupa makanan ringan, multivitamin, masker, dan hand sanitizer yang kemudian akan di salurkan kepada  masyarakat ekonomi bawah yang terkena imbas wabah COVID-19.

Gerekan seperti ini sudah mulai banyak bermunculan diberbagai media sosial, mungkin dari masyarakat sendiri sudah tergugah hatinya ketika melihat kondisi ekonomi masyarakat di sekitarnya yang cukup memprihatinkan akibat adanya wabah COVID-19 ini.

Seperti halnya kitabisa.com sebuah platform donasi dan menggalang dana untuk inisiatif, campaign dan progam sosial. Di platform ini terdapat penggalang dana dengan identitas #Saling Jaga Hadapi Corona yang mebuka donasi untuk masyarakat kecil dan pekerja informal yeng tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, misalnya: driver ojek online, pedagang keliling, penjual bahan makanan di pasar. Hasil donasi ini akan di alokasikan untuk pembelian kebutuan pokok sehari-hari, masker, hand sanitizer, sarung tangan dan alat perlindungan diri.

Sebab, banyak dari mereka orang yang harus bekerja keluar rumah, karena jika mereka tidak bekerja keluar sehari saja mereka tidak bisa makan. Masyarakat yang seperti ini juga kurang mempunyai akses untuk memeriksakan kesehatanya apalagi tentang hidup higenis dan social distancing, apalagi informasi tentang penyebaran COVID-19. Oleh sebab itu, bantuan untuk mereka sangat dibutuhkan sekali.

Melihat fenomena demikian membuktikan bahwa kepedulian masyarakat Indonesia masih tinggi. Mulai dari bantuan secara materi maupun finansial juga dukungan moral baik terhadap pasien COVID-19 maupun warga yang mengalami tekanan ekonomi mulai bermunculan. hal itu merupakan indikasi bahwa masyarakat Indonesia masih peduli terhadap warga yang membutuhkan. Semoga wabah ini cepat berakhir dan kita bisa beraktifitas normal kembali.

Penulis: Nur Avian Hardiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *