3 Sahabat

BAGIKAN:

Penulis: Abdullah aslim

Malam itu di sebuah caffe ternama di kota malang, kami bertiga bersenda gurau. Kita yang sedang merantau di kota dingin ini. Bertemu tanpa rencana, hanya saja saling share loc dimana kita berada, dari situlah kami sering bertemu dan mempererat tali persaudaraan. Tidak lain tempat yang kita sering kunjungi ialah warung kopi. Karena di warung kopi semua cerita ada.

Seduhan kopi yang sering memberikan inspirasi pada diri kita dan mengingatkan kembali ingatan di jauh hari yang terlewati. Bercerita masa silam yang indah, satu menceritakan bagimana ia dulu bolos sekolah, satu lagi bercerita tentang bagiaman ia yang tidak pernah mengikuti kegiatan Osis. Sedangkan aku selalu bercerita yang aneh-aneh. Cerita tentang cinta atau kisah asmara di saat duduk di bangku SMA. Yaa maklumlah diri ini termakan  oleh Cinta yang katanya selalu manis membuat hati dan fikiran selalu mengayang pada keindahan saja, hingga lupa akan kesedihan yang mungkin akan datang disaat Bahagia sirna. Namun  aku bersyukur akan makanan cinta itu. Karena saat ini aku sulit mendapatkan kesedihan dari cinta itu sendiri. Semua kejadian masa lalu memberikan hikmah dan nikmat yang membuatku selalu bersyukur, dengan begitu aku tau akan hal kedewasaan yang tak bisa dinilai dari umur ataupun fisik. Akan tetapi kedewasaan itu dilihat tatkala bagimana kita mampu menghadapi suatu masalah tanpa melibatkan orang lain, bahkan kedewasaan bisa di ukur dari otak yang dingin dikala menghadapi suatu masalah apapun.

Kami adalah bagian dari “Lahoy” sebutan bagi anak-anak cowok IPA 1 SMA AL FALAH. Kami juga bagian dari “Tretan Thibik” anak Lahoy yang ada di kota malang. Ada yang kuliah, ada yang kerja. Kami sama-sama merantau dalam menggapai tujuan masing-masing. Di tengah asyiknya bercanda di caffe itu. Kami sambil melirik-lirik cewek yang ada di sekitar kita. Yaa begitulah jika para cowok berkumpul tanpa ditemani seorang cewek, pasti matanya keluyuran entah kemana, mencari yang cocok di buat pacar ataupun teman. Lebih-lebih yang Namanya Fendi Pratama, dia orangnya yang paling ganteng di antara kita bertiga. Dia memang cowok yang selektif dalam memilih pasangan, bisa dikata JOMBLO SELEKTIF bukan kayak kita-kita JOMBLO NGENES,hehehe. tipenya dia sih cewek yang cantik, seksi, tinggi dan wow lah. Seperti yang di depannya, seorang cewek cantik, putih, dan tinggi. Lumayan cocok lah baginya, ia melirik terus kadang ada main mata sama dia, yaa ampun temenku ini yaaa kalo soal cewek pasti paling depan, tapi dia itu orangnya pemalu meskipun punya modal wajah cakep. Ingin kenal saja dia harus lewat si jacky, temenku yang satunya, Jacky itu yaa orangnya seorang aktifis, bisa dibilang begitulah karena dia aktif disegala dibidang orientasi kampus. maka dari itulah Fendi menyuruhnya untuk dikenalin sama cewek yang didepannya. Eh boro-boro kenalan, si cewek sudah saja pergi dari tempat dimana ia nongkrong sama teman-temannya. Tapi, fendi tidak putus asa di situ saja, ia melirik lagi ke kanan, eh nemu lagi dia. Aku gumam saja di hati “elah fendi yaa meski malam yang gelap gini masih saja nemu yang oke”.

Lupakan saja dulu lah si fendi itu, mending kita ketahui si jacky itu bagaimana. Ia cerita apa pada kita, Ceritanya sih tentang bagaimana ia berorganisasi dalam sebuah organisasi. Ia menceritakan bahwa di semua organisasi kampus ia di bentuk sebagai manusia yang berakhlak mulia dan manusia yang intelektual, spiritual, serta kritis. Menurutnya, dalam organisasi tersebut itu ada 2 hal pokok yaitu Keindonesiaan dan Keagamaan. Jadi dengan begitu kita akan imbang dunia dan aklhirat. Dari situlah kita disuruh aktif didalamnya hingga kita akan tau bagaimana itu berorganisasi serta bagaimana kita akan menjadi orang yang memang benar-benar orang. Di dalam organisasi ada yang Namanya Nilai Dasar Pergerakan atau yang dikenal NDP. Dimana arti dari NPD ialah suatu sublimasi nilai Ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan

Saya dan Fendi sangat asyik mendengar cerita dari Jacky, menurutnya jikalau kita kuliah dan tidak berorganisasi maka kita tidak ada bedanya dengan kita dulu di SMA. Cuma monoton, masuk, kerjakan Tugas, absen, lalu pulang. Seharusnya kita ini menjadi mahasiswa yang kritis bagaimana kita bisa mengaktifkan para mahasiswa dalam berdebat di dalam kelas atau perlu kita menyanggah statmen seorang dosen. Kita jadi mahasiswa itu tidak perlu dengan IPK tinggi ataupun Nilai yang bagus, karena masyarakat itu tidak butuh angka akan tetapi yang dibutuhkan aksi nyata dari hasil kita kuliah yang jauh-jauh dari kampung ke kota. Jika kita hanya menjadi mahasiswa Kupu-kupu mending kita pulang ke kampung bantuin orang tua mencari rumput ke sawah untuk sapi ataupun kambing. Dalam berorganisasi kita akan menjadi orang yang dibutuhkan bukan yang membutuhkan, akan tetapi semua itu butuh proses yang panjang, maka dari situlah jangan berproses setengah akan tetapi berproseslah secara sesungguhnya.  Jangan hanya mencari nama dalam organisasi akan tetapi bangunlah organisasi itu dengan namamu. Orang-orang yang sukses diluar sana itu orang yang aktif dalam dunia kampus dan luar kampus. Lanjutnya.

Kami hanya manggut-manggut dan terbakar semangat untuk mengikuti organisasi yang dijabarkan oleh Jacky yang bergerak disalah satu kampus ternama. Sesekali Jacky menyeruput kopi yang sudah mendingin lantaran sudah semakin larut malam dan anginpun semakin berhilir. Sedangkan Fendi tetep saja melirik si cewek itu sambil menghembuskan hisapan rokoknya. Aku sendiri sambil memuter-muter ponselku menunggu notif dari pacarku.

Jacky menghentikan ceritanya. Di warung kopi ini kita mendapat inspirasi dari cerita Jacky, kalau kita kesini bukan untuk main-main. Kita merantau bukan sekedar keinginan dan kenyamanan, akan tetapi memenuhi tanggungan yang besar bagaimana kita pulang dari sini akan dibutuhkan oleh-oleh orang-orang kampung.

Sedangkan aku hanya bercerita tentang bagaimana aku dikampus, tidak asyik jika aku jabarkan dan kutulis disini. Setelah kami selesai bercerita dan memberi arahan kami berfoto Bersama mumpung Fendi sedang membawa kamera yang bermerek Sony. Selesai berfoto kami beranjak pulang, akan tetapi langkah kami terhenti dikarenakan ada segerombolan cewek yang meminta video kita sedang berbincang dengan mereka memakai Bahasa daerahnya. Dan ternyata si cewek itu yang fendi lirik-lirik tadi. Dan cewek-cewek itu dari Thailand, pantas saja kami melongo tatkala mereka ngomong sama kita pakai Bahasa Thailand. Si Fendi tat mau kehilangan kesempatan untuk berfoto dengan mereka dan kenalan dengan mereka. Setelah semua kenal kami pamit untuk pulang.

Kami dari kampung ingin memberikan yang terbaik utnuk orang tua, janji suci terlantukan di antara kita dengan penyaksian dari bintang dan bulan serta saksi dari langit dan bumi. Bismillah…!!!

Malang 5 September 2019

LahoyFamilyVXIII

Pena Jingga

Abdullah aslim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *