Sepercik Harapan

0
10
picture by:goresanfarida.wordpress.com
picture by:goresanfarida.wordpress.com

Penulis: Arfadilla

Seminggu yang lalu tidak ada yang lebih memahitkan mulutku, memualkan perut bahkan menyesakkan dadaku, sampai kejadian itu datang. Ya, tiba-tiba Dewi keponakanku pulang ke rumah setelah 8 bulan lamanya tidak pulang. Dia adalah anak dari adik perempuanku yang mengais rezeki di tanah Arab demi menyekolahkan anak semata wayangnya Dewi, karena suaminya yang telah lebih dahulu pergi menghadap Sang Ilahi.

Tapi kali ini berbeda, kepulanganya bukan hal yang membahagiakan untukku. Gadis manis kelas X SMA ini tidak pulang sendirian, ia pulang dengan perut buncit, ia pulang dengan janin yang tumbuh besar di perutnya.

Tuhan!!! Aku tak sanggup memeluk untuk menyambutnya, aku tak sanggup menyampaikan rasa rindu pada ponakan cantikuku ini. Dia yang kurawat dari kecil, kubesarkan dengan kasih sayang agar tidak terlarut dengan kesedihan karena jauh dari ibu kandungnya. Tapi hari ini datang dengan keadaan yang tak bisa kuterima.

“Assalamualaikum bude, Dewi pulang” salamnya terbata-bata saat memasuki pagar rumah. Aku hanya diam lunglai di depan pintu rumahku. Aku tak sanggup melihatnya. Aku malu pada adik ku Yuni. Bagaimana aku menjelaskan ini nanti kepadanya.

“Bude, Dewi pulang bude. Dewi kangen bude” katanya sambil menangis meraih tanganku. Kulihat air matanya ikut bercucuran. Hatiku tak tega melihatnya. Bagaimanapun juga dia masih kecil, tapi hal ini juga tak bisa kubiarkan. Ah! Aku lelah dengan pikiranku sendiri.

“Masuklah! Bude kebetulan memasak menu kesukanaanmu, jadi makanlah setelah ganti pakaian” suruhku sambil berdiri mengabaikannya. Aku ingin menenangkan diri.

Seharian itu aku menghabiskan waktuku menangis di kamar. Pikiranku terus bercampur aduk. Sudah kucoba untuk berfikir jernih namun yang ada malah makin kacau. Yang mampu kulakukan hanya diam, entah sampai kapan aku akan melakukanya, tapi aku sungguh tak sanggup memandang ponakan kesayanganku ini.

tok.. tok.. tokk

“Bude, ini Dewi bude”

Dengan muka yang masih sembab aku membuka pintu dan mepersilahkan Dewi masuk.

“Bude.. maafin Dewi bude, jangan diamkan Dewi bude, Dewi sudah nggak sanggup bude” pintanya sambil bersujud padaku,

Malam itu dia menceritakan semua hal tentang kehamilanya padaku. Bahwa laki-laki bernama Ucok telah membujuknya untuk melakukan hubungan intim di kosnya yang berjarak jauh dari rumahku namun berjarak sangat dekat dengan sekolahnya. Maklum rumahku sangat terpencil di desa.

Dia bercerita tentang perjuanganya untuk tidak aborsi, namun tidak menutupi bahwa dia sangat malu untuk datang kesekolah, perutnya yang kian lama semakin membuncit membuatnya memutuskan untuk absen sekolah dan menghabiskan waktunya berdiam diri di dalam kamar kosnya. Berkali-kali Ucok membujuknya untuk aborsi namun karna ia merasa bahwa janin kecilnya tidak berhak mati hanya  untuk menanggung dosa ibunya, ia berfikir ulang untuk mengaborsinya.

Mendengar tentang semua perjuanganya, aku sadar dia juga sama sepertiku. Frustasi mengenai kehamilannya, dia masih kecil tapi sudah sangat dewasa untuk  bertahan sampai di usia 8 bulan kehamilannya ini. Malam itu kami tidur di kamar yang sama, di kamarku. Aku memeluknya erat agar ia tak merasa sendiri lagi menanggung beban berat ini semua.

Dini hari pukul 04.00 setempat aku tiba-tiba tersadar dari tidurku, ada hal penting yang baru ku ingat, dan ini kulewatkan dengan bodohnya. Hari ini ibu Dewi akan pulang dari Arab karena besok adalah hari pertama puasa. Beribu pertanyaan datang menusukku bagaimana aku harus menjelaskan pada ibunya Dewi, bagaimana dengan prasangka tetangga kami, harus bagaimana aku.

Untuk menghindari prasangka tetangga, aku menyuruh Dewi untuk tak keluar rumah. Aku belum memberi tahu mengenai kepulangan ibunya, karena Yuni adiku belum memberi kabar yang pasti mengenai jam kedatanganya. Sehingga aku fikir aku masih punya waktu untuk bersiap diri menghadapi Yuni.

Akan tetapi, ternyata keputusanku salah, siang itu tiba-tiba Yuni sudah sampai di rumah, aku tidak tau bagaimana kedatanganya. Karena seharian aku sibuk mencari rumah Ucok di desa sebelah untuk meminta pertanggung jawabanya.

Saat aku membuka pagar rumah, sayup-sayup tedengar jeritan tangis Yuni dan Dewi anaknya, “rupanya mereka sudah saling bertemu”, kesimpulanku. Dengan rasa takut aku memasuki rumah, ku lihat Dewi sudah bersujud di kaki ibunya yang sudah duduk lunglai di lantai. Kulihat ada darah di kakinya. Sempat aku berfikir untuk menanyakan keadaanya karena khawatir dengan bayi yang di kandungnya. Tapi niat itu kuundur melihat keadaan Yuni adikku yang pasti hancur hatinya, karena 5 tahun tidak bertemu dan harus menerima kenyataan pahit dari putrinya ini.

Kecewa. Ya, orang tua mana yang tidak kecewa. Ada marah, kecewa, sedih, malu, aib, terlebih tanggung jawab di hadapan Tuhan kelak bagaimana?

“Ma, maafin Dewi ma. Dewi ngaku salah. Maafin Dewi ma” Dewi menangis, sembari sujud di kaki ibunya.

“Kenapa kamu melakukan ini Wi? Apa kamu tidak kasian liat mama banting tulang sendirian untuk kamu? Atau kamu ingin mama mati? Nyusul papamu?” Dewi hanya menggelengkan kepalanya dan menangis.

“Apa salah mama Wi, kenapa kamu menghukum mama dengan ini, apa kamu gak sayang dengan mama Wi?”

Dewi masih tak sanggup menyahut dan hanya sesenggukan menahan tangisannya.

“Siapa. Siapa Dewi? Jawab mama? Dewi! Jawab mama. Dengan siapa kamu melakukannya?” tegas mamanya.

“Sama Ucok ma. Ucok yang dari desa sebelah ma. Dewi ngelakuinnya sama dia ma”. Ujar Dewi tersedu sedan menyesali atas kelakuannya.

Kemudian Yuni sadar ada aku berdiri mematung di sampimgnya. Segera kupeluk dan meminta maaf padanya.

“Mbakyu*, piye iki mbak anakku hamil mbak. Kenapa mbak gak ngomong mbak?

“Maafkan aku yun, aku baru tahu kemaren, Dewi baru pulang kemaren ke rumah, 8 bulan dia gak pulang yu”

“Mbakyu, aku malu mbakyu, gimana omongan tetangga mbakyu? Gimana aku tanggung jawab sama Tuhan nanti mbakyu?”

Aku diam tak menyahut, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Yuni terus mengadukan lukanya dan Dewi terus menjerit meminta maaf. Aku tak bisa berbijak untuk menenangkan dua insan yang kusayangi ini, aku hanya bisa memeluk Yuni dan melihat ratapan luka Dewi.

Seminggu lamanya Yuni hanya berdiam diri di kamar tidak mau makan hingga jatuh sakit, ia samasekali tak mengizinkan Dewi masuk kamarnya. Hingga di minggu ke dua tiba-tiba Dewi mengeluh sakit dari pagi, sepertinya ia akan melahirkan. Aku tak bisa lagi menyembunyikan keadaan ini dari tetangga sekitarku, kuminta Yuni bangun dan menunggui Dewi kemudian aku berlari meminta tetangga terdekatku yang memiliki mobil untuk membawa Dewi ke puskesmas.

Persalinan bayi Dewi berlangsung lama, hingga berjam-jam. Kemudian seorang suster puskesmas keluar kamar bersalin sambil menggendong seorang bayi laki-laki yang sehat. Yuni kembali lunglai saat aku menyambut bayi tersebut.

“Cucumu sangat ganteng Yun. Matanya mirip sama Dewi” kataku sambil mendekatkan bayi mungil tersebut ke hadapan Yuni

Yuni meneteskan air matanya, dan menyambut bayi tersebut, bayi tampan yang masih suci. Beberapa menit kemudian Yuni membawa bayi tersebut kepelukan ibunya yang masih lemas.

“Anakmu ganteng nduk” kata Yuni sambil duduk di samping Dewi

“Maafkan Dewi ibu, Dewi nyesel udah kecewain ibu, bikin ibu sakit, maafkan Dewi ibu” kembali Dewi meminta maaf tanpa peduli lukanya yang masih belum kering dari persalinan.

“Tadi Ucok datang bersama keluarganya, budemu yang ngabarin mereka.”

“Lalu bu?”

“Mereka minta maaf sama ibu, dan berjanji untuk bertanggung jawab, bulan depan kamu nikah ya nduk? Bayi manis ini harus punya bapak!”

“Iya, bu”

Hari itu kulihat secercah harapan untuk Dewi dan bayi mungilnya. Kasih ibu memang sepanjang masa. Semarah apapun Yuni terhadap Dewi, Dewi tetaplah anaknya, permata hatinya, buah hatinya bersama suami tercinta yang lebih dulu menghadap Sang Ilahi.

 

*panggilan untuk kakak perempuan di Jawa

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here