Keluarga – Tak Lekang Waktu

0
8
By: Roni Rusdian/MEI
By: Roni Rusdian/MEI

Oleh: Budi Heri W.

 

“Harta itu tidak kalian akan dapatkan dalam waktu sekejap, mulailah apa yang kalian awali, jangan setengah-setengah, kalian yang di MEI sekarang… jangan berfikir MEI akan hidup selamanya, tapi berfikirlah keluarga yang tercipta dari MEI akan kekal sampai kalian benar-benar pikun dan lupa nama panggilan kesayangan satu sama lain.”

Sekilas perjalanan, tentang masa dimana yang tak disadari menjadi awal sebuah keluarga, sebuah kekerabatan yang termaktub dalam narasi pribadi masing-masing. Akan menjadi primordialis, aish..persetan dengan pemikiran diluar. Paling tidak, bagi masaku mereka sangat berarti, sampai penulis meraih apa yang dirasa selama ini.

Pada 2002. Narasi berkembang, tidak ada sebuah ide ataupun pemikiran matang untuk bergabung keorganisasi. Background keluarga yang menuntut untuk kuliah dan kuliah, demi perbaikan ekonomi keluarga saat itu. Lalu, berfikir apa yang patut. Irma, Ary… keduanya gugur di tahun pertama lantaran faktor yang berbeda, bahkan Irma hanya 1 semester, ya.. mereka tak lanjut kuliah, dan otomatis mereka tak lagi bersama untuk mengarungi organisasi yang mereka kenalkan kepadaku, LPM – MEI.

Asing, sangat asing.

Background jurusan bahasa semasa SMU rupanya tak cukup membantu berkarya saat itu. Hanya “ndompleng” lewat mading, menulis sesuatu yang sebenarnya saat itu jauh dari nilai baik, hanya sekedar ikut terjun, tak banyak sumbangsih ditahun pertama, ikutin saja nalar semua yang ada, dan tidak berfikir panjang. Banyak dalam diskusi, ide hanya menjadi sampah karena tidak bisa mempertahankan didepan semua pengurus, akhirnya… dan terus.. hanya menjadi penghangat, menjadi pengikut dalam tiap bergulirnya rapat. Tidak lebih.

Waktu pun berlalu, selisih pun sering, merasa paling benar pun sering. Ya, dalam diskusi harus merasa paling benar, walau hanya dalam tataran yang sering orang bilang “omong kosong”. Tak perlu berfikir tekstual (karena literatur mudah di sadur), Tak perlu komprehensif (karena kota bukan tim yang metodologis). Kami hanya perlu peka, peka dengan apa yang ada disekitar.. lupakan detail parameter yang menyebabkan kita tak kreatif dalam nalar ide.

Hmmm… 1 setengah periode apalah yang didapat? Selain dari nasehat dan (selalu) makian dan kritikan dari pendahulu yang selalu bersikap sok arif, sok kreatif, dan terakhir selalu “sok bijak”. Ya sudah…bukanlah lewat mereka jalur jembatan dimulai ? Bukankah mereka menjelma sebagai buku alam yang seringkali kita malas untuk membaca tekstual. Ok, jangan menghardik mereka. Mereka sayang ke kita saat itu, penulis terutama.

Keberanian…

Hanya keberanian yang saya temukan, mereka tak pandai untuk mempengaruhi, tapi pandai untuk memupuk semangat dan ghiroh mahabbah ke organisasi. Sebuat saja Almarhum Alfan Moris, Bary, Udin, Hasan, dsb. Mereka hanya pandai untuk memupuk jiwa berani, berani ngomong walau harus dimentahkan, berani menulis walau hanya buat dokumentasi internal yang acapkali jadi sampah di pelataran Gedung E waktu itu, atau hanya penghangat mading yang sering kali tak dilihat oleh mahasiswa.

Whats the fuck i want to talking..

Ok, like this, I just want to talk.. mereka sangat keren, keberanian yang mereka pupuk menimbulkan sisi liar dan keberanian untuk melakukan sesuatu, paling tidak menularkan ide, tulisan, dan majalah, Titik.

Ulum, Faruk, Latief, Ibeng, Agus, Lilik, Atik, Eni.. selanjutnya mereka hadir, dalam tiap hari penulis. Sebenarnya mereka tidak terlalu keren dalam hal pemikiran, ide, dan sebagainya. Tapi penulis faham satu hal, mereka penerus keluarga kami, keluarga yang tak akan lekang oleh waktu, keluarga yang tercipta dari sekian banyak narasi, diskusi, umpatan, cek cok, dan semuanya. Bagi siapapun, tak ada jaman seindah jaman ketika seseorang berada disana.

Zudika, Amir.. hadir saat masa senja penulis dalam organisasi dimulai. Antara pekerjaan dan mendampingi mereka. Dan saat itu penulis hadir sebagai orang yang dianggap “tetua”, rasanya aneh, harus hadir dalam pola yang serba normatif, alih-alih memberi contoh yang baik, kontribusi ke mereka saja tidak ada.

Pada tahun 2002 – 2007, bukan rentan waktu yang sekejap untuk dikatakan, hari demi hari bergumul dengan mereka menciptakan waktu, kebersamaan, kekelurgaan, dan ikatan emosional yang masih terjalin sampai sekarang. Lihat Yaqin, Brewok, Kamal, Hasan. Mereka diatas penulis, guyonan mereka masih kayak jaman kuliah. Lihat Agus, Latif, Faruk. Hmmm.. kalian luar biasa.

Harta itu tidak kalian akan dapatkan dalam waktu sekejap, mulailah apa yang kalian awali, jangan setengah-setengah, kalian yang di MEI sekarang… jangan berfikir MEI akan hidup selamanya, tapi berfikirlah keluarga yang tercipta dari MEI akan kekal sampai kalian benar-benar pikun dan lupa nama panggilan kesayangan satu sama lain.

Kalteng, Sei Hanyo. (2/12/2018.)

( Penulis merupakan Alumni LPM MEI, beliau sangat menginpirasi, selalu memberi nasehat kepada kawan-kawan Meirs untuk tetap menjaga semangatnya dalam berproses. Sehat selalu mas Budi, sukses. Kepedulian, dan nasehatnya merupakan sekuntum kenangan indah yang tiada bakal terlupakan. Salam dari kami LPM MEI rumah yang pernah dihuni.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here