Tolak Omnibus Law: Serikat Buruh Padati Balai Kota Malang

0
30
Tolak Omnibus Law: Serikat Buruh Padati Balai Kota Malang
(Tolak Omnibus Law: Serikat Buruh Padati Balai Kota Malang) Photografer: Nur Avian

Pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja terutama pada klaster ketenagakerjaan menuai banyak protes dari kalangan buruh karena dinilai hanya menguntungkan pengusaha, seperti: mendukung politik upah murah, pesangon berkurang, memperpanjang waktu kerja, menghapus hak-hak cuti kerja dll.

Baca Juga : FEB Unisma Ciptakan Kebersamaan Pada Oshika Maba 2020

Berdasarkan press release aliansi Malang Melawan bahwa “pengesahan RUU Omnibus Law akan menerapkan perbudakan modern lewat sistem fleksibilitas tenaga kerja yang diandalkan pemerintah, asosiasi pengusaha, dan Bank Dunia merupakan fitur utama klaster ketenagakerjaan RUU Cilaka yang akan diwujudkan dalam kemudahan rekrutmen dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Nantinya, upah pekerja/buruh sepenuhnya akan ditentukan oleh Perusahaan. Sehingga pengawasan pemerintah dalam upaya menjaga kesejahteraan justru akan semakin minim. Perempuan pekerja yang diupah per jam merupakan kelompok yang paling terdampak (BAB 4 tentang ketenagakerjaan pasal 156).”

Sejak di sahkan pada tanggal 5 Oktober 2020 UU Omnibus Law memunculkan berbagai polemik, puncaknya pada tanggal 8 Oktober 2020 ribuan mahasiswa, serikat pekerja dan buruh  bersatu melakukan aksi penolakan UU Omnibus Law Cipta kerja. Salah satunya di Kota Malang ribuan mahasiswa, buruh dan serikat kerja memadati Balai Kota Malang sebagai wujud penolakan mereka, karena dianggap tidak relevan dalam mewujudkan lapangan kerja. Banyak pasal kontroversial yang dianggap merugikan pekerja. Mereka mengungkapkan rasa kekecewaan dengan orasi sepanjang jalan agar UU Omnibus Law dicabut.

Baca Juga : Oshika Maba Unisma 2020: Tanamkan Kebhinekaan Kepada Mahasiswa Baru 

Puji Astuti, pekerja yang tergabung di serikat pekerja seluruh Indonesia (SPSI) mengatakan”Kami menolak Onibus Law Cipta Kerja karena banyak poin penting yang dihapuskan sedangkan kami bertahun-tahun bekerja tidak mendapatkan apa-apa (pesangon)”. Ujar Puji Astuti.

Aksi akan tetap berlanjut apabila aksi mereka tidak terjawab di Kota Malang, mereka akan melakukan aksi di Surabaya denga massa lebih besar.


Penulis: Dinda
Editor: Nisa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here